Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis hasil peninjauan berkala terhadap sejumlah indeks saham utama melalui pengumuman resmi tertanggal 24 April 2026. Penyesuaian ini mencakup indeks IDX30, LQ45, dan IDX80, dengan periode efektif dimulai pada 4 Mei 2026. Perubahan tersebut langsung menarik perhatian pelaku pasar karena mencerminkan dinamika terbaru dalam struktur pasar saham Indonesia, khususnya terkait likuiditas dan kualitas kepemilikan saham.
Dalam evaluasi terbaru ini, BEI memperkuat pendekatan seleksi dengan tidak lagi hanya mengandalkan kapitalisasi pasar, tetapi juga mempertimbangkan faktor lain seperti porsi free float, tingkat keaktifan perdagangan saham, serta menghindari emiten dengan konsentrasi kepemilikan yang terlalu tinggi (High Shareholding Concentration/HSC). Kebijakan ini menunjukkan arah baru bahwa indeks akan semakin merepresentasikan saham yang likuid dan lebih “tradable” bagi investor institusi.
Perubahan Komposisi Utama
IDX30
Saham yang masuk: Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR)
Saham yang keluar: Indosat Tbk (ISAT)
LQ45
Pendatang baru: Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), Dewa United Tbk (DEWA), ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
Yang terdepak: Barito Renewables Energy Tbk (BREN), Ciputra Development Tbk (CTRA), Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)
IDX80
Saham baru: Sentul City Tbk (BKSL), Citra Buana Prasida Tbk (CBDK), Dewa United Tbk (DEWA), Gudang Garam Tbk (GGRM), Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
Saham keluar: Barito Renewables Energy Tbk (BREN), Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)
Secara keseluruhan, hasil rebalancing ini menegaskan adanya pergeseran fokus pasar menuju saham dengan likuiditas tinggi dan distribusi kepemilikan yang lebih merata. Perubahan komposisi indeks seperti ini umumnya juga berpotensi memicu pergerakan dana dari investor institusi, terutama produk berbasis indeks seperti reksa dana dan ETF, yang menjadikan indeks sebagai acuan utama dalam penyusunan portofolio.
[Sumber : Keterbukaan Informasi IDX]






