
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka melemah tipis pada perdagangan hari ini, Rabu (10/6/2026), usai kemarin berhasil bangkit dari tekanan jual yang menghantam pasar dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data perdagangan sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG terkoreksi 0,05% atau naik 2,59 poin ke posisi 5.744,06. Semenit setelah pasar buka, IHSG terkoreksi lebih dalam dan tercatat melemah 1,11% ke level 5.677.
Namun tak lama setelahnya atau kurang dari lima menit pasar dibuka IHSG Malah melesat 1,55% lebih ke level 5.836.
Pada awal sesi, pelemahan indeks juga diiringi aktivitas transaksi yang relatif ramai. Tercatat volume perdagangan mencapai sekitar 1,83 miliar saham dengan nilai transaksi Rp1,53 triliun dan frekuensi perdagangan mencapai 148 ribu kali.
Adapun saham yang paling ramai ditransaksikan hari ini termasuk BBCA, TPIA, BBRI, BMRI dan TLKM.
Pasar keuangan Indonesia pada hari ini masih akan dihadapkan dengan dinamika mulai dari perang hingga investor yang terus mencermati ketahanan fiskal dalam negeri maupun kelanjutan makroekonomi global.
Bursa Asia dibuka melemah pada perdagangan Rabu (10/6/2026) setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyusul serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Di kawasan Asia, indeks Kospi Korea Selatan memimpin pelemahan dengan penurunan lebih dari 2%. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,71% dan indeks acuan Australia S&P/ASX 200 bergerak sedikit lebih rendah.
Kontrak berjangka saham Amerika Serikat juga berada di zona merah pada Selasa malam waktu setempat. Futures S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun 0,3%, sedangkan futures Dow Jones Industrial Average melemah 161 poin atau sekitar 0,3%.
Tekanan di pasar muncul setelah militer AS melancarkan apa yang disebut sebagai “serangan untuk membela diri” terhadap Iran. Langkah tersebut dilakukan sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache Angkatan Darat AS sehari sebelumnya.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan dilakukan sebagai balasan atas insiden penembakan helikopter tersebut. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menuduh Iran bertanggung jawab atas jatuhnya helikopter yang sedang berpatroli di Selat Hormuz.
Meski demikian, Iran belum mengakui secara langsung keterlibatannya dalam insiden tersebut. Perkembangan terbaru ini dinilai berpotensi mengganggu gencatan senjata yang masih rapuh antara kedua negara sekaligus menghambat upaya menuju kesepakatan damai.
Meningkatnya tensi geopolitik juga mendorong harga minyak dunia lebih tinggi. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terakhir tercatat naik sekitar 1% ke kisaran US$89 per barel.
Dari domestik, PT Pertamina resmi melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi mulai Rabu, 10 Juni 2026. Kenaikan ini hanya berselang 10 hari setelah pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi naik per 1 juni 2026.
Berdasarkan situs PT Pertamina Patra Niaga, Pertamina resmi menaikkan harga BBM Pertamax (RON 92) menjadi Rp 16.250 per liter mulai Rabu, 10 Juni 2026 untuk daerah DKI Jakarta dan sekitarnya. Harga BBM Pertamax ini naik Rp 3.950 per liter dari sebelumnya ditetapkan Rp 12.300 per liter pada 1 Juni 2026.
Ini merupakan kenaikan harga BBM Pertamax perdana setelah lonjakan harga minyak dunia akibat perang Israel-Iran pecah sejak 28 Februari 2026 lalu. Ketika harga BBM non subsidi lainnya sudah mengalami kenaikan harga sejak 18 April 2026 lalu, harga BBM Pertamax masih belum mengalami penyesuaian harga.
Selanjutnya pasar juga akan mencerna kabar terkait rencanan buybacjk saham oleh emiten bank BUMN.
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyelenggarakan pertemuan koordinasi bersama jajaran direktur bank Himbara, Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer BPI Danantara Dony Oskaria, serta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Rapat tertutup yang berlangsung di Gedung Nusantara III DPR RI ini secara spesifik membahas dinamika pasar saham yang tengah bergejolak, khususnya tren pelemahan nilai saham pada perbankan BUMN.
Dasco memaparkan bahwa perbankan pelat merah pada dasarnya memiliki landasan fundamental operasional dan rekam jejak kinerja yang sangat solid. Pelemahan yang terjadi lebih banyak didorong oleh sentimen negatif dari situasi pasar global yang kemudian berdampak sistemik pada bursa domestik.
Oleh karena itu, pertemuan ini ditujukan untuk mendiskusikan peluang dan momentum yang tepat bagi pihak perbankan guna melakukan aksi pembelian kembali atau buyback atas saham-saham mereka yang terkoreksi.
Rapat strategis ini turut dihadiri oleh pimpinan tertinggi institusi keuangan negara, termasuk Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Mandiri, Taspen, hingga Indonesia Investment Authority.
SUMBER : CNBC Indonesia






