CAPITAL CORP. SYDNEY

73 Ocean Street, New South Wales 2000, SYDNEY

Contact Person: Callum S Ansell
E: callum.aus@capital.com
P: (02) 8252 5319

WILD KEY CAPITAL

22 Guild Street, NW8 2UP,
LONDON

Contact Person: Matilda O Dunn
E: matilda.uk@capital.com
P: 070 8652 7276

LECHMERE CAPITAL

Genslerstraße 9, Berlin Schöneberg 10829, BERLIN

Contact Person: Thorsten S Kohl
E: thorsten.bl@capital.com
P: 030 62 91 92

Breaking: IHSG Terbang 1,21%, Balik Ke 7.300-an

Uncategorized

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melesat pada perdagangan sesi I Jumat (17/5/2024), di mana investor cenderung masih menimbang dari melambatnya pertumbuhan inflasi di Amerika Serikat (AS).

Per pukul 09:41 WIB, IHSG melesat 1,21% ke posisi 7.334,49. IHSG akhirnya berhasil menyentuh kembali level psikologis 7.300 pada sesi I hari ini.

Nilai transaksi indeks pada sesi I hari ini sudah mencapai sekitar Rp 2,8 triliun dengan volume transaksi mencapai 4,3 miliar lembar saham dan sudah ditransaksikan sebanyak 280.498 kali. Sebanyak 208 saham menguat, 210 saham melemah, dan 188 sisanya cenderung stagnan.

IHSG kembali cerah bergairah di tengah melandainya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) kemarin. Yield Treasury acuan tenor 10 tahun melemah ke 4,36%, dari sebelumnya yang ada di kisaran 4,5%.

Melemahnya yield Treasury terjadi setelah inflasi AS melandai pada April 2024. Melandainya inflasi ini memberi optimisme pasar jika bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan segera memangkas suku bunga.

Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan bahwa Indeks Harga Konsumen (consumer price index/CPI) naik 3,4%(year-on-year/yoy) untuk April, di bawah ekspektasi analis dan menunjukkan tren jelas menuju perlambatan inflasi lebih lanjut.

Investor cenderung menyukai perlambatan karena ini berarti harga masih naik, tetapi pada tingkat yang lebih berkelanjutan. Hal ini juga berdampak pada suku bunga, termasuk biaya pinjaman uang untuk segala sesuatu mulai dari kartu kredit hingga pinjaman mobil dan untuk suku bunga hipotek.

The Fed terus menargetkan tingkat inflasi sebesar 2%. Jika The Fed percaya pertumbuhan harga melambat menuju angka tersebut, mereka mungkin mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga utamanya dari level hampir 5,5% yang telah bertahan selama sekitar satu tahun.

Jika suku bunga turun, ini akan membantu menurunkan pembayaran bulanan yang dihadapi oleh bisnis dan konsumen di seluruh ekonomi.

Jika The Fed menurunkan suku bunga karena inflasi yang melambat, hal ini dapat memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menyesuaikan kebijakan moneternya, mungkin dengan menurunkan suku bunga juga.

Suku bunga yang lebih rendah dapat meningkatkan daya beli dan investasi domestik, mendorong kenaikan IHSG.

SUMBER : CNBC INDONESIA