CAPITAL CORP. SYDNEY

73 Ocean Street, New South Wales 2000, SYDNEY

Contact Person: Callum S Ansell
E: callum.aus@capital.com
P: (02) 8252 5319

WILD KEY CAPITAL

22 Guild Street, NW8 2UP,
LONDON

Contact Person: Matilda O Dunn
E: matilda.uk@capital.com
P: 070 8652 7276

LECHMERE CAPITAL

Genslerstraße 9, Berlin Schöneberg 10829, BERLIN

Contact Person: Thorsten S Kohl
E: thorsten.bl@capital.com
P: 030 62 91 92

IHSG Dibuka Menguat 0,56% Pagi Ini, 315 Saham Naik

Uncategorized

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (3/9/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup melemah tipis.
Berdasarkan data IDX Mobile pukul 09.02 WIB, IHSG dibuka naik 37,05 poin atau 0,56% ke level 6.632,83, dari penutupan sebelumnya di 6.595,78.

Pada awal perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.638,60 dan terendah 6.614,71. Sebanyak 315 saham menguat, 135 saham melemah, dan 513 saham stagnan.

Nilai transaksi tercatat sekitar Rp623,1 miliar, dengan volume perdagangan mencapai 1,47 miliar saham dan frekuensi 98.780 kali.

Adapun IHSG berpeluang mencoba bangkit pada perdagangan Kamis (3/9/2026) setelah terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar akan mencermati sejumlah sentimen global dan domestik.

Dari global, eskalasi konflik AS-Iran kembali meningkatkan risiko gangguan pasokan energi, kenaikan harga minyak, dan inflasi. Tekanan juga datang dari tingginya yield obligasi global, dengan yield Treasury AS 10 tahun sempat mencapai 4,818%.

Tekanan juga terlihat di pasar obligasi global. Yield surat utang Jepang tenor 10 tahun menembus 3% untuk pertama kalinya dalam 30 tahun, sedangkan yield Jerman dan Inggris masing-masing mencapai level tertinggi sejak 2011 dan 2008.

Pasar turut mencermati arah kebijakan The Fed setelah data tenaga kerja AS menunjukkan perusahaan swasta hanya menambah 38.000 pekerjaan pada Agustus, di bawah ekspektasi 47.000.

Dari domestik, sentimen positif berpotensi datang dari Gubernur BI Destry Damayanti yang menegaskan stabilitas ekonomi tetap menjadi prioritas BI periode 2026-2031, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Selain itu, pasar domestik akan mencermati perkembangan kebijakan pemerintah, termasuk sektor energi dan perbankan. Kenaikan harga avtur Pertamina mulai September serta pencabutan izin usaha satu BPR Syariah oleh OJK menjadi sejumlah perkembangan domestik yang turut menjadi perhatian pelaku pasar.

SUMBER : CNBC Indonesia